Hot Links
Jaringan Pelayanan
Kantor Pusat/Cabang Utama
Kantor Pusat/Cabang Utama
Kantor Kas UPN Veteran Yogyakarta
Kantor Kas RS Bethesda
Kantor Kas RSKIA Bethesda Lempuyangwangi
Kantor Cabang Pembantu Malioboro
Kantor Kas Palagan
Kantor Kas RSUP Dr. Sardjito
Kantor Kas Kanwil Ditjen Pajak (DJP)
Payment Point KPPD/SAMSAT di Kota Yogyakarta
Kantor Kas Universitas Gadjah Mada (UGM)
Payment Point DPPKA Pemprov DIY
Kantor Kas UKDW
Payment Point Paviliun Ayodya RSUP Dr. Sardjito
Payment Point Kantor BATAN
Kantor Kas UIN Sunan Kalijaga
Cabang Sleman
Cabang Sleman
Kantor Cabang Pembantu Kalasan
Kantor Cabang Pembantu Pakem
Kantor Cabang Pembantu Condongcatur
Kantor Cabang Pembantu Godean
Kantor Cabang Pembantu Gamping
Kantor Kas RSUD Sleman
Kantor Kas Tempel
Kantor Cabang Pembantu Mlati
Kantor Cabang Pembantu Ngaglik
Kantor Kas UNY
Kantor Cabang Pembantu Maguwoharjo
Kantor Kas Turi
Kantor Kas Moyudan
Kantor Kas Seyegan
Kantor Kas Ngemplak
Kantor Kas Berbah
Kantor Kas Sembada
Kantor Kas Sendangadi
Kantor Kas Tlagareja
Kantor Kas INSTIPER Yogyakarta
Payment Point KPPD/SAMSAT di Kabupaten Sleman
Payment Point SAMSAT Pembantu di Kabupaten Sleman
Kantor Kas Prambanan
Kantor Kas Sidoarum
Kantor Kas Cangkringan
Payment Point RS Panti Rini
Payment Point Dipenda Kabupaten Sleman
Kantor Kas Minggir
Payment Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Kabupaten Sleman
Cabang Bantul
Cabang Bantul
Kantor Cabang Pembantu Piyungan
Kantor Cabang Pembantu Imogiri
Kantor Kas RSUD Bantul
Kantor Cabang Pembantu Srandakan
Kantor Kas Sewon
Kantor Kas Gabusan
Kantor Cabang Pembantu Sedayu
Kantor Cabang Pembantu Kretek
Kantor Cabang Pembantu Pleret
Kantor Kas Parasamya
Kantor Kas Sanden
Kantor Kas Baturetno
Payment Point KPP Pratama Bantul
Payment Point Universitas Mercu Buana
Payment Point KPPD/SAMSAT di Kabupaten Bantul
Payment Point SAMSAT Pembantu di Kabupaten Bantul
Kantor Kas Komplek 2 Pemda Kab. Bantul
Kantor Kas Kasongan
Kantor Kas Pandak
Kantor Kas Pundong
Kantor Kas Bambanglipuro
Kantor Kas Jetis
Payment Point Mikro Makarya Pasar Imogiri
Payment Point Mikro Makarya Pasar Piyungan
Payment Point Mikro Makarya Pasar Niten
Kantor Kas Dlingo
Kantor Kas Pajangan
Cabang Wates
Cabang Wates
Kantor Cabang Pembantu Galur
Kantor Cabang Pembantu Nanggulan
Kantor Cabang Pembantu Sentolo
Kantor Cabang Pembantu Temon
Kantor Kas Binangun
Kantor Kas RSUD Wates
Kantor Kas Bendungan
Kantor Kas Dekso
Kantor Kas Pengasih
Kantor Kas KPPD/SAMSAT di Kabupaten Kulon Progo
Kantor Kas Lendah
Kantor Kas Kokap
Kantor Kas Samigaluh
Kantor Kas Panjatan
Payment Point KPP Pratama Wates
Kantor Kas Tugu Pensil
Payment Point Pasar Sentolo Baru
Payment Point RSUD Nyi Ageng Serang
Cabang Wonosari
Cabang Wonosari
Kantor Cabang Pembantu Karangmojo
Kantor Cabang Pembantu Semin
Kantor Cabang Pembantu Playen
Kantor Kas RSUD Wonosari
Kantor Kas Ponjong
Kantor Kas Semanu
Kantor Kas Nglipar
Kantor Kas Patuk
Kantor Kas Paliyan
Kantor Kas Pemerintah Kabupaten Gunungkidul
Kantor Kas Panggang
Payment Point KPPD/SAMSAT di Kabupaten Gunungkidul
Payment Point KPP Pratama Wonosari
Kantor Cabang Pembantu Rongkop
Kantor Kas Tepus
Kantor Kas Ngawen
Kantor Kas Girisubo
Kantor Kas Mikro Makarya Pasar Argosari
Cabang Senopati
Cabang Senopati
Kantor Cabang Pembantu Kotagede
Kantor Kas RSUD Kodya
Kantor Cabang Pembantu Wirobrajan
Kantor Cabang Pembantu Prawirotaman
Kantor Kas Universitas Widya Mataram
Kantor Kas Balaikota
Kantor Kas Manggung
Kantor Kas Giwangan
Kantor Kas Gedongkuning
Payment Point Universitas Janabadra
Payment Point KPP Pratama Kota Yogyakarta
Kantor Kas Pasar Beringharjo
Kantor Kas Gedung Keuangan Negara
Kantor Kas Pasar PASTY
Payment Point SAMSAT Galeria Mall
Kantor Kas RS Mata Dr. Yap Yogyakarta
Kantor Kas AM Sangaji
Kantor Kas RS Panti Rapih
Kantor Kas PT. Taspen
Kantor Cabang Syariah
Kantor Cabang Syariah
Kantor Kas Syariah Asri Medical Centre (AMC)
Kantor Kas Kusumanegara
Kantor Kas Syariah Krapyak
Kantor Kas Syariah Universitas Islam Indonesia (UII)
Kantor Cabang Pembantu Syariah UMY
Kantor Kas Syariah Maguwoharjo
Cabang Pembantu Syariah Wonosari
Cabang Pembantu Syariah Godean
ATM
This Week 4
This Month 3255
Total 675556
Berita dan Publikasi
Mempertegas Komitmen Bank BPD DIY ke UMKM
Sumber: SKH Kedaulatan Rakyat
YOGYA (KR) - DALAM memperingati usianya yang ke-47, Bank BPD DIY dihadapkan pada pertanyaan besar, masihkah ia mampu memperteguh konsistensinya sebagai bank-nya "wong cilik"? Masihkah Bank BPD DIY memiliki komitmen untuk tidak bergeser pada prioritasnya dalam memberikan kredit/pembiayaan pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)?
Pertanyaan tersebut terasa wajib dikedepankan sebagai "gugatan" atas visi yang diembannya. Sesuai visinya, Bank BPD DIY memiliki kehendak besar untuk mewujudkan terpenuhinya kebutuhan masyarakat, khususnya di DIY akan jasa perbankan, terutama kredit skala kecil dan menengah, serta mendorong program pemberdayaan perekonomian daerah.

Jika dilihat dari data kinerja keuangan terakhir, Bank BPD DIY memiliki perkembangan kinerja yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan aset, penghimpunan dana, penyaluran kredit, perkembangan laba, dan indikator keuangan lainnya, yang selalu menunjukkan perkembangan memuaskan.

Memasuki usianya yang ke 47 ini, Bank BPD DIY telah membukukan aset sebesar Rp 3,336 triliun (posisi Oktober 2008), atau mengalami peningkatan sebesar 6,14% jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2007 yang memiliki aset Rp 3,143 triliun. Sedangkan kredit yang disalurkan mencapai Rp 1,625 triliun (posisi Oktober 2008), atau mengalami peningkatan sebesar 16,65% jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2007 yang mencapai Rp 1,393 triliun. Dari jumlah kredit yang disalurkan tersebut, sebesar 98,12% di antaranya disalurkan ke sektor UMKM.

Dari capaian angka tersebut, sejauh ini bank telah berhasil memprioritaskan penyaluran kreditnya kepada sektor UMKM. Namun demikian, perlu dilihat apakah kredit lebih banyak disalurkan kepada sektor konsumsi atau produksi. Walaupun kredit sektor konsumsi secara langsung dapat menggerakkan sektor produksi, namun pembiayaan sektor produksi mempunyai multiplier effect yang besar bagi perekonomian dibandingkan sektor konsumsi.

Belakangan, Bank BPD DIY mendapat tantangan baru. Kredit mikro diperkirakan akan kembali marak pada tahun 2009, setelah dalam beberapa tahun terakhir banyak bank melakukan ekspansi besar-besaran ke sektor korporasi. Namun sejarah berulang, krisis keuangan global telah membuat sektor korporasi kehilangan daya tarik. Hal inilah yang membuat sektor UMKM kembali dilirik untuk digarap oleh industri perbankan.

Apalagi, sektor ini terbukti tangguh saat menghadapi badai krisis tahun 1998 silam. Bank-bank besar akan menyemarakkan pasar kredit mikro pada tahun 2009. Ceruk pasar yang masih terbuka lebar ditambah tingkat risiko yang terbilang rendah menjadi magnet dan daya tarik tersendiri bagi dunia perbankan. Itulah sebabnya, bank-bank skala besar justru berlomba-lomba masuk hingga pelosok desa. Dalam menyikapi fenomena ekspansi pembiayaan yang dilakukan bank-bank besar kepada sektor UMKM, perlu disadari terlebih dahulu bahwa bank BPD DIY sebenarnya memiliki keunggulan bersaing dibandingkan bank lain. Sebagai bank lokal dan asli Yogya, Bank BPD DIY dianggap lebih mengenal kultur masyarakat Yogyakarta. Sampai saat ini, budaya masyarakat Indonesia harus diakui masih memperhatikan nilai-nilai kultural seperti sektor emosi kedaerahan dan nilai-nilai historis.

Adanya idiom kedaerahan tersebut sebenarnya masih dapat "dijual" sebagai faktor keunggulan bersaing. Namun demikian, yang bisa dikedepankan kepada nasabah bukan sekadar berhenti menonjolkan simbol-simbol kedaerahan, namun juga nilai-nilai luhur yang diemban dalam operasionalisasi bank, seperti hanya nilai-nilai kebersamaan, keramahtamahan, dan nilai penting lainnya yang dianut masyarakat Yogyakarta. Kunci sukses kekuatan Bank BPD DIY sebagai bank asli Yogya justru berada pada kemampuannya merangkul nasabah.

Layanan prima yang dihargai dan dipenuhi kebutuhannya. Aplikasi kultur budaya harus mempertemukan sense of business dengan nilai tradisional masyarakat. Dalam konteks yang lebih luas, Bank BPD DIY harus menghadirkan dirinya sebagai bank yang nguwongake (menghargai orang lain), ramah, dan tidak pernah menganggap orang lain berada di "bawah". Hal ini perlu dikedepankan mengingat kebanggaan pegawai atas institusi tempatnya bekerja (apalagi bank) lebih banyak bersumber kepada atribut-atribut artifisial, seperti besarnya skala usaha bank, gedungnya yang megah, atau karena memiliki nasabah-nasabah konglomerat.

Tantangan Bank BPD DIY pun berlanjut. Saat ini, bank-bank berskala nasional asli Jakarta sedang "berpesta" memperebutkan lezatnya pasar pembiayaan mikro. Namun, saat ini "pesta" itu sedang mereda karena minimnya likuiditas sebagai akibat krisis. Bank BPD DIY sebenarnya cukup berpeluang merebut pasar mikro di wilayahnya sendiri. Dengan melihat Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BPD DIY yang menunjukkan angka 57,88% (posisi Oktober 2008), kondisi likuiditas Bank BPD DIY sebenarnya masih cukup aman untuk melakukan ekspansi kredit.

Karena struktur dana pihak ketiga yang dihimpun sangat khas, secara umum kondisi likuiditas BPD-BPD di seluruh Indonesia berada dalam kondisi yang sehat dan tidak terkena dampak krisis likuiditas. Kondisi likuiditas yang aman tak hanya menyediakan ruang bagi Bank BPD DIY untuk dapat tetap menggenjot kredit, namun juga masih memiliki peluang untuk memperoleh return yang kompetitif dari bentuk investasi yang lain, seperti penempatan dana antarbank atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Oleh karena itu, setelah memiliki daya dukung yang optimal terhadap ekspansi kredit ke UMKM, Bank BPD DIY perlu mengelola kesiapan sumber daya manusianya. Setiap bank sebenarnya telah memiliki kompetensi dan expertise-nya sendiri-sendiri. Seperti halnya bank-bank berskala besar yang berfokus pada sektor korporasi memiliki kompetensi pada sektor tersebut, demikian pula dengan bank yang berfokus menggarap sektor UMKM. Melakukan switching ke segmen pasar yang tidak dikuasainya membutuhkan upaya yang tidak mudah, sehingga kita banyak melihat bank yang gagal mencoba memasuki segmentasi pasar yang baru. Nah, Bank BPD DIY sebenarnya telah cukup teruji memiliki expertise untuk menekuni sektor UMKM.

Pertaruhannya sangat besar apabila bank ini harus mencoba terbuai untuk agresif dan atraktif menggarap kredit non UMKM. Apalagi kecenderungan tawaran untuk menggarap sektor usaha besar, yang tentu saja juga memiliki tingkat risiko yang besar, sangat tampak di depan mata. Untuk itulah, apabila memang Bank BPD DIY ingin mencoba menggarap pasar sektor tersebut, maka perlu prioritas untuk melakukan penggarapan sektor usaha yang mampu menjadi pendorong program pemberdayaan perekonomian daerah.

Pembiayaan infrastruktur, pembiayaan kepada dunia pendidikan, atau pembiayaan kepada fasilitas-fasilitas ekonomi yang mendukung sektor pariwisata (terutama di DIY) bisa menjadi prioritas utama proses pembelajaran penyaluran kredit berskala besar bagi Bank BPD DIY. Artinya, adanya peluang bisnis yang masih cukup besar pada sektor pendidikan dan pariwisata di Yogyakarta, memungkinkan Bank BPD DIY memiliki peran strategis dalam mendukung pembiayaannya. Walaupun sektor institusi pendidikan formal bisa saja telah mengalami "kejenuhan", bank dapat mencoba menjajaki prospek pengembangan lembaga pendidikan informal seperti lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan kejuruan dan sekolah-sekolah kejuruan yang menggarap tenaga ahli di bidang pariwisata, ekonomi kreatif, dan sebagainya.

Terakhir, sebagai sebuah institusi bisnis yang ingin selalu tumbuh berkembang secara berkelanjutan (sustainable growth), tentu saja Bank BPD DIY harus cerdas dalam menentukan pilihan atas alternatif-alternatif segmentasi pasarnya. Pada saat berada di persimpangan jalan, sudah selayaknya Bank BPD DIY harus kembali kepada jati diri dan "khitah"-nya, sebagai bank yang setia mendampingi UMKM di Yogyakarta.

Selamat Ulang Tahun ke-47 Bank BPD DIY.

q - m. (5041-2008). *) Prof Dr Ainun Naim MBA, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Tulisan ini kerja sama Bank BPD DIY dengan KR.
 
Copyright © 2006 - 2017
Bank Pembangunan Daerah - Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta